Salahkah Coki Pardede dan Tretan Muslim?


halo semuanya, apa kabar? saya baru saja membuka-buka kamus besar bahasa Indonesia berbasis online, iseng-iseng saya membuka kata “nista” artinya rendah, menista artinya menganggap nista, ternista artinya dalam keadaan direndahkan, nistaan adalah cercaan, penista orang yang menista (kan), kenistaan artinya hal nista. Saya mengambil kesimpulan bahwa penistaan adalah penghinaan.
Lalu iseng-iseng lagi saya buka-buka Instagram dan kembali melihat kiriman bukuakik tentang Coki Pardede dan Tretan Muslim salah satu anggota Majelis Lucu Indonesia (MLI) yang menyatakan pamit dari MLI.

Saya pernah menelusuri bahwasanya kemunduran ini diakibatkan cercaan masyarakat terhadap Video Coki dan Tretan di channel Tretan yang berjudul “Last Hope Kitchen” di Video ini, Tretan mengusulkan untuk memasak daging babi dengan diberikan air kurma serta madu dan dibuatlah video ini diatas rooftop kostan.

Pada video ini Tretan menjelaskan mengapa ia menemukan ide ini karna babi kan haram jadi kalau ditambah kan unsur-unsur timur tengah mungkinkah akan mengurangi kadar haramnya. Saat memulai masak, Coki mengambil banyak peran mungkin karna coki ini merasa untuk urusan babi biar dia saja yang memotong dan memasak, Tretan cukup memberikan dan menuangkan bumbu.

Video yang berdurasi 20 menit lebih ini sangat menarik menurut saya karna konsepnya fresh dan lawakannya seperti dalam tongkrongan.

Namun, reaksi masyarakat benar-benar diluar nalar saya. Mereka merasa bahwa Tretan dan Coki sudah berlebihan karna menjadikan agama untuk bahan lawakan terutama dalam adegan diawal ketika Tretan seakan mendengar suara babi yang berteriak “Neraka-Neraka, Api neraka, Babi di Neraka” dan tentu karna kalimat diawal pula “Apa yang akan terjadi bila daging haram dicampur dengan unsur-unsur Arab, kurma dan madu” “kira-kira apa yang terjadi kalau makanan haram Albabi ini dicampur dengan makanan Albarokah”

Dari apa yang saya tonton ini saya merasa lawakan mereka terkesan nyeleneh namun sering saya fikirkan, lawakan yang mereka sajikan adalah sebuah lawakan yang kadang jadi pikiran nyeleneh saya, hanya saja saya tidak mengucapkannya, tidak memvideokannya apalagi mempostingnya.

Namun, apakah karna mereka melakukan semua itu maka mereka menjadi salah? Bagi saya tidak karna itu adalah kebebasan berfikir, kebebasan berekspresi dan kebebasan seni.

Bahkan, didalam Video ini Tretan mencoba memberitahu hal-hal yang menurut saya baik sekali, pertama saat coki menjelaskan ada bagian-bagian terbaik didaging babi dan tretan menjawab “kalau bagi orang islam, bagian terbaik dari babi dibuang, tidak ada yang terbaik dari Alharamin alharamun” kedua saat Coki memotong daging babi dan merasa kesulitan, Tretan berucap “memang kalau makan haram itu pasti dipersulit bro gak mudah, coba daging sapi ayam itu mudah”
Sebenarnya kalimat-kalimat baik yang diucapkan Tretan ada benarnya dan sedikit sarkas karena banyak sekali pada masa ini manusia-manusia yang menghalalkan yang haram serta memudahkan hal-hal yang haram atau bersusah-payah dalam keharaman. Bahkan memasak babi dengan kurma pun menurut saya adalah hal yang sarkas bagaimana sekarang banyak orang berfikir dapat menjadikan haram itu halal, Contoh: Menyumbang/bersedekah dengan uang hasil korupsi dan berdalil “Kan uangnya buat kebaikan” atau “yang penting niatnya”

Terlepas dari maksud video mereka, mari kita memperhatikan netizen-netizen tegang saat ini, akhir-akhir ini netizen Indonesia jadi begitu tegang, mereka jadi lebih menghukum daripada hukum itu sendiri, netizen kita kini nampaknya benar-benar mampu menentukan mana yang menghuni surga dan mana yang bukan, mereka nampaknya lebih paham maksud hati oranglain daripada orang itu sendiri.

Beberapakali netizen-netizen yang berfikir sama dengan saya menegur para netizen tegang ini tetapi mereka menjawab bahwa kita harus selalu mengingatkan dalam kebaikan.
Sebenarnya tidak ada yang salah dari mengingatkan atau merasa tersinggung dengan konten ini, kita kan bebas berfikir dan bebas merasa.

Hanya saja pertanyaan saya adalah apakah anda benar mengingatkan bukan menghakimi? Apakah anda benar mengarahkan bukan memperparah? Apakah sudah benar?

Ditulis oleh: Tika Nurril Huda

Iklan

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s