Flashback: Kitab Anti Bodoh


malam ini rasanya sepi sekali

aku terus berfikir tentang hari-hari yang lewat

meratapi setiap keputusan yang ku buat

kembali memandangi wajahmu yang melarikan diri

aku masih teringat awal kita saling menyapa, kau dengan malu-malu terus menyebutku “mbak”

kita membicarakan banyak hal dari sebuah buku hingga negara lalu meruncing pada perasaan

setiap bahan obrolan yang kita bicarakan terasa sangat hidup

kau tak pernah membiarkan aku membahasnya sendiri, kau selalu mendengar dan menyimak, memastikan aku tak keliru dalam berfikir.

mengetik tentang ini jantungku berdegup kencang, rasaya aku masih ingat perasaan itu saat pertama kali menatapmu

dari depan pagar aku saksikan seorang pria berparas “okelah” dengan tinggi badan yang sedikit tidak santai

aku ingat kemeja yang kau kenakan, kau berjalan dengan membawa sekantong cemilan dengan tas di punggung.

kita bersalaman dengan sangat kaku lalu aku mengajakmu masuk dalam kamarku

kala itu kostan tidak begitu sepi sehingga apapun yang terlintas dari pikiranku perlu diredam dalam-dalam.

kau duduk didepan pintu kamar mandiku, kau terlihat bingung harus melakukan apa sedangkan aku sangat bersyukur melihatmu sebab rasanya aku menemukan belahan jiwa yang terus ku cari dengan penuh rasa sakit.

aku mencoba mencairkan suasana dengan mengajakmu berbincang tentang perjalanan panjang dari selatan ke timur, perjalanan yang kau tempuh dengan tidak tidur dari hari kemarin.

Kau mengeluarkan 2 tangkai bunga mawar yang kau beli kemarin di toko bunga, aku ingat ceritanya sebab itu pertama kali kau pergi kesana.

seharian kita lewati dengan berbincang, bercanda, istirahat dan berpisah.

aku ingat kau membaca sebuah buku dengan terus menggenggam tanganku , aku yang memaksa hal itu. Tanganmu dingin sekali tapi aku suka menggenggamnya.

Semua hal yang dilakukan pada hari itu sudah kita rencanakan jauh sebelumnya meskipun banyak yang tak sesuai tapi ku rasa kau tak pernah berniat membuatnya menjadi tidak sesuai rencana, jadwal kerjamulah yang membuatnya jadi sulit dan tentu saja, keegoisanku yang tak ingin terus menunda pertemuan. Di pertemuan itu kau berjanji untuk menyatakan cinta secara langsung dan rasanya masih ku ingat kalimatmu

“Aku gak mau jadi anak magang, aku mau jadi pegawai tetap. kamu mau gak jadi pacar aku?”

konyolnya kalimatmu tapi aku mungkin lebih konyol sebab terus menjatuhkan diri pada pelukanmu.

kita juga berjanji untuk saling memberikan sebuah surat bila bertemu dan kau memenuhinya dan aku masih menyimpannya hingga detik ini. Suratmu berisikan kalimat yang cukup membuat tersenyum

JakaRta 4 ApRiL 2018

KepaDa

YTH tika H

DeAr sayang, Pagi ini memuakkan semoga engkau tidak,

dalam kesempatan kali ini anggaplah seBuaH Awal DaRi PeRkena-

lan. OH ya tulisan ini Buruk? Tak apa, Setidaknya Gue-

Niat. JuJur gue engga PeRnaH nuLis semenjak LuLus SMK-

Jadi gue minta Rasa mAKLum untuk pemBacaan Surat ini

Hanya sedikit yang gue mau sampaikan

Semoga Perkenalan

iNi

Bisa Berlanjut

(masa TRiAL 2 Bulan)

begitulah isi suratmu dengan huruf yang begitu bervariasi dari Kapital hinga huruf kecil, alay memang.

salah satu hal yang paling membuatku kaget dari suratmu adalah tanda tangan kita yang serupa. aku terdiam menatap tandatanganmu, hati kecilku berbisik bahwa mungkin kau benar-benar jawaban itu.

Perpisahan kitapun begitu terasa hangat, aku terus saja memelukmu, seakan tak mau kau pergi, seakan aku tak mau kau menghilang walau hanya sedetik.

Namun, jalan kta tak bertemu, kau memilih pisah dengan banyak alasan, aku sempat menahanmu agar tak melarikan diri dariku, agar kau tak jauh-jauh dariku namun sepertinya keinginanmu begitu hebat.

Aku terus berfikir apa penyebabnya, apa yang salah, apa yang harus kulakukan

Aku berfikir mungkin aku tak sesuai ekspektasimu, aku hanya gadis buruk rupa yang jiwa candaku tak mampu menutupi itu. Aku berfikir mungkin ada sikap egoisku yang membuatmu pergi, aku mencoba mencari jawaban atas perginya dirimu. Kau sebenarnya telah coba menjelaskan dan alasanmu sungguh sulit ku terima dan sungguh sakit untuk ku cerna.

Aku tidak pernah menemukan seseorang seperti dirimu yang rasanya benar-benar mirip denganku, rasanya kau benar-benar hadir dan mengisi kekosonganku, aku yang sering merasa bosan menjadi begitu candu pada percakapan kita. Aku yang tak begitu suka membaca buku dengan genremu belajar memahami genre itu. berlebihankah bila ku menyatakan bahwa dirimu membuat sudut-sudut sepi dalam diriku bersinar, semua mimpi-mimpi yang lama ku redam kembali bangkit karna kehadiranmu.

Kepergianmu membuatku kembali merasa sepi bahkan menjadi lebih sepi sebab rasanya kau membawa banyak hal dari diriku dan hanya menyisakan pertanyaan.

waktu itu aku sempat berfikir untuk datang dan meminta kau bertahan, mengemis segala kemungkinan yang ada, melakukan apa saja yang masuk dinalarku agar kau menetap namun dari pengalaman aku belajar bahwa apa-apa yang ingin pergi akan tetap menemukan jalan untuk pergi dan yang menetap akan terus memiliki alasan utnuk menetap.

itulah sebab aku tak mengusik hanya membiarkan dirimu pergi sambil diam-diam mengobati rasa. namun, aku melihat bahwa kau benar-benar tak lagi ingin bertemu denganku, tak lagi menganggap apa yang kita lewati berarti, bahwa satu-satunya yang kau harapkan adalah tak pernah mengenalku dan itulah sebab kau menutup semua jalur yang dapat ku tempuh untuk sebuah temu dan komunikasi

setelah semua yang berlalu aku menyadari bahwa buku yang kau pinjamkan “Kitab Anti Bodoh” mungkin sebuah tanda bahwa aku sedng dibodohi atau aku memang bodoh.

ya, ku doakan kita semua berbahagia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s