Sedikit Cerita: Mungkin benar kata sigmund


cinta

gue pernah mendiskusikan cinta dengan seseorang dari masalalu, gue menemukan dia diantara rak rak buku.

Cinta, bagi dia bagaimanapun kita merangkainya maknanya cuma satu yaitu nafsu birahi. iya, dia mengutip dari kata-kata opa sigmund. teman gue ini memang manusia penuh teori.

cuman, teori kali ini cukup menarik bagi gue, sehingga gue biarkan dia mengelaboratenya dan dia mengutip kalimat sigmund dengan lengkap
Pada ibu dan anaklah dikatakan cinta murni, karenl a cinta seorang lelaki terhadap seorang perempuan dan begitu pula sebaliknya, walau bagaimana halusnya susunan kata yang diucapkan, maksudnya hanya satu, yaitu nafsu birahi.

MENARIK!

sebenarnya teori ini entah kenapa tak ingin gue bantah ya, dari semua teori yang sering dia kemukakan, teori ini sangat menarik perhatian gue.

setelah dia mengemukakan kalimat ini, gue sering memikirkannya. melihat sekeliling gue, para dua sejoli yang mencinta, mengumbar kata, memperjuangkan dengan sangat, memproklamirkan kalimat “aku tulus sayang kamu” benarkah?

dan setelah begitu lama, teori ini kembali membuat gue patah.

iya, Mama dari teman gue meninggal dunia, begitu saja, secepat itu.

Meninggal.

Meninggal.

Lenyap.

Selamanya.

kemarin, gue pergi ke krematorium cilincing, teman gue menghampiri, gue berlari dan dia memeluk gue, terjatuh, lemah sekali, dia bergetar, hati gue pedih.

teman gue ini merupakan anak kedua di keluarganya, semasa hidup ibunya, mereka sering bertengkar, meributkan hal yang receh dan kadang sangat receh. Teman gue merasa ibunya membedakan dia dan kakaknya, untuk kakaknya selalu ada sedang untuk dia ada tapi dengan pertengkaran.

Kakak teman gue sudah S2, masuk universitas negeri, sungguh membanggakan sedangkan teman gue ya seperti gue “penghuni swasta yg jaya dimasanya”

tapi teman gue ini walau sering bertengkar, dia sungguh cinta ibunya, gue sangat tahu itu, semasa ibunya sakit dia tak pernah berhenti merawat ibunya dari memasak, menserut kunyit, bersihin rumah, nyuci baju, nemenin dirunah sakit, ngurus air seni ibunya, semuanya. bahkan, dia sengaja menyelesaikan 3,5 tahun masa kuliahnya sebab itu permintaan ibunya.

ketika gue peluk teman gue di krematorium, dia berteriak lirih.

“Mami gue jahat tik, dia penipu, dia tinggalin gue, dia pembohong. dia udah datang 3 kali ke wisuda kakak gue tik tapi dia gak dateng ke wisuda pertama gue.. dia jahat tika”

gue terhenyak, diam seribu bahasa hanya memeluk dan mengusap punggungnya, sesekali mengusap rambutnya. Gue tau dia terpukul.

setelah tenang, dia ajak gue ke penitipan abu, ada foto ibunya disana, gue hafal betul wajah wanita cantik itu, dengan candaan yg selalu dia sematkan dalam setiap obrolan. sama halnya dengan teman gue, gue pun merasa semuanya terlalu cepat.

Iklan

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s