Amanda Chapter 6 “more than words” #end


Saying I love you,
Is not the words,
I want to hear from you,
It’s not that I want you,
Not to say but if you only knew,
How easy, 
it would be to show me how you feel,
More than words,
is all you have to do, 
to make it real,
Then you wouldn’t have to say, 
that you love me,
Cause I’d already know (More than words-Westlife)

 

Hari pertunjukan telah tiba, semua tamu undangan datang, para panitia pun telah siap dan banyak dari mereka yang membawa tamu tambahan, acara pertunjukkan tampak sangat bernuansa tradisional, tempatnya di Karang Pawitan, Karawang. luas dan bagus. setiap Stannya menunukkan bberbagai macam wayang, stan lainnya diisi oleh beberapa pemesan stan yang menampilkan “Khas Karawang” 

gue pun telah berada disana bersama angelo, gue memakai batik dress, begitupula angelo, mereka tampak serasi, lalu andrew pun terlihat memakai batik bersama panitia yang lain, dan semua berjalan begitu lancar, gue dan teampun mendapatkan banyak pujian. 

“amanda, selamat ya, kamu berhasil juga membawa acara ini” kata kepala sekolah gue.

“semuanya tidak akan berhasil tanpa bantuan sekolah kita dan sekolah partner begitu juga dengan teamwork ini pak” ucap gue mengakui.

“ya” kata kepala sekolah gue yang emang nalurinya singkat dalam berkata kecuali hal-hal yang emang butuh penjelasan lebih lanjut dan dia pun duduk di tempat tamu undangan. 

 

semua berjlan begitu lancar, dan hari H adalah waktu dimana gue bisa sedikit santai, dan gue pun duduk bersama angelo disekitar panggung, hingga akhirnya brian datang. 

“amanda, bisa minta waktu sebentar?” 

“mau apa lo?” 

“sebentar aja” 

“kalau mau ngomong disini, gue gak bisa ninggalin tempat, kalau enggak, gak usah” 

“ya udah, gimana kalau selesai acara?” 

“ya udah”

selama acara berlangsung, gue sangat bangga karena tamu penting akhirnya datang, Bupati Karawang yang emang jadwalnya padat kayak oxygen di udara,  ternyata sempat datang ke acara untuk kota karawang, sentak semua senang dan acara pun tambah meriah, semua berjalan dengan baik, warga karawang banyak yang datang, dan semua tertib.

Panitia pun merasa kerja keras selama ini benar-benar terbayar, setelah ini beban terbesar pun dapat terlepas semenara, walau setelah 3 hari kemudian mereka tetap harus berkutat dengan tugas, tapi sejujurnya istirahat 1 jam saja pada saat ini sangat berarti. Seadangkan gue? setelah ini musuh yang selama ini selalu menghina gue didepan umum ternyata adalah pengagum rahasia dalam loker gue, ternyata manusia itu yang mengorbakan memori dalam kameranya habis dengan gue, menghabiskan uang untuk mencetak foto, dan berjuang agar tak ketahuan dengan gue (walau pada akhirnya ketauan)

akhirnya acara selesai, semua tamu mulai berpulangan, tinggalah kami para panitia dan tukang-tukang, memastikan lapangan bersih dan tidak ada yang rusak dan Brian kembali datang. 

“ikut gue” paksa brian sambil menarik tangan gue, dan membawa gue ke bawah pohon yang memang penuh cahaya. #gakanehanehkok

“amanda, gue gak pernah nyangka kedok  gue ketauan dengan cara seperti itu, gue gak nyangka ketauan malahan. dan gue minta maaf karena selama ini gue jahat ke lo tapi gue sayang sama lo” 

“lo munafik”

“iya gue munafik, bahkan gue pengecut, karena gak mau ngakuin perasaan gue ke lo, gak mau ngelawan kata-kata temen gue yang bilang kalau pacaran sama lo cuma membuat gue semakin pecundang, lo lebih hebat dari gue, lo selalu bikin gue di peringkat dua, I’m always under the TROPHY, but I need to realized, that I love you more than a user of drugs addicted to drugs, and I need you, I really want you, just give me One chance, One little chance to prove that I’m worthy to be by your side.” 

“secinta apapun lo sama gue, semuanya udah lo ludahin sama semua cacian yang lo kasih ke gue, dan gue memang tidak pernah lo kasih kesempatan untuk membiarkan hati gue mencintai lo, lo yang kunci hati gue dan membiarkan gue menutup lubang kunci itu, gue cuma punya satu rasa buat lo BENCI, Maaf dan pergi sejauh mungkin dari gue, kata cinta lo gak membayar kata cacian lo yang buruk banget ke gue di depan umum, gue maafin lo untuk masalah cacian, tapi maaf, kesempatan itu memang tidak ada untuk lo”.

“gue mohon” Brian langsung berlutut dan mengemis. 

“gak akan” gue pun memutuskan pergi dari sana, gue lari dari lapangan, minta nater temen gue ke danau resinda tepat jam 1 malam, danau resinda danau disebuah perumahan mewah yang indah, hanya danau tapi tampak begitu luas dan tenang karena dikeliling tempat ibadah, gue selalu kesini saat merasa semua buruk dan gue kesini karena memang lingkungan rumah, gue duduk disana ditemani lampu jalan berwarna kuning, teman gue ingin menemani tapi gue tolak, dan gue cuma sendirian. 

 

sesaat gue merasa tenang, sampai pada akhirnya Andrew menyusul ke danau. 

“hei amanda, peri cantik gue” ucap andrew menyapa dengan suarnaya yang begitu menenangkan. 

“Butuh bahu?” tawar andrew

“sangat” ucap gue. 

“gak nyangka ya, makhluk itu suka sama lo, gue kagum sama dia, berani ngungkapin perasaannya padahal udah sejahat itu” andrew diam sejenak “dan gue merasa saatnya gue yang ngelakuin hal yang sama” 

“makudnya?” tanya gue dengan harapan agar tidak ada kerumitan baru. 

“selama ini gue suka sama lo”

“lah kalau lo suka kenapa pacaran sama orang lain?”

“karena lo gak pernah ngasih respon lebih dari perhatian gue dan karena itu gue pengen liat respon lo kalau ngeliat ,gue pacaran sama orang lain, tapi lo malah deket sama angelo” 

“lantas? cewek lo mau dikemanain?”

“gue udah putus sama dia, gue emang gak pernah cinta sama dia, gue maunya lo” 

“seandainya” 

“seandainya apa?”

“seandainya lo  ucapin itu dulu, saat waktu kita ke cafe, seandainya lo gak bawa pacar lo waktu itu, seandainya waktu itu lo nembak gue mungkin gue bakal jawab iya dengan keyakinan 100%, seandainya gak lo biarin gue ngeliat wanita itu bahagia bersama lo, dan lo pun tampak bahagia juga, seandainya lo lebih peka, seandainya itu dulu bukan sekarang” 

“ada apa dengan sekarang?”

“dulu dengan keyakinan 100% gue mencintai lo, sekarang dengan keyakinan 100% bahwa semua keyakinan yang dulu adalah keliru, maaf”

“kalau lo emang cinta sama gue, tidak pernah ada kata terlambat”

“gue pernah bukan masih, saat mencintai gue, lo mampu menipu perasaan lo, lo tega nipu wanita lain kalau lo mencintai mereka, dan belum tentu saat ini lo serius dengan omongan lo, maaf” 

“gue bakal berusaha buktiin itu ke lo, liat aja, ayo pulang” 

“gue mau sendiri, tolong pergi” 

Andrew pun pergi sedangkan gue? diam ditempat itu dengan rasa sepi mendalam. 

“hei cewek karawang”  ucap seorang pria dari belakang, gue liat dan laki-laki ini memakai topeng, tapi gue tau dia siapa.

“angelo… mau apa kamu?” 

“aku tau hari ini gak jadi good day kamu, dan aku cuma bisa bawa es krim kesukaan kamu” gue ngambil es krimnya, dan emang itu yang gue butuhin. angelo duduk diseblah gue dan meluk gue erat. 

“mereka mungkin salah megartikan perasaan mereka ke kamu, tapi aku bakal nunjukin semua sesuai apa yang kamu mau, menambahkannya dengan pengetahuanku dan memperbaikinya seperti harapanmu” gue menggangguk, gue yakin dia ngerti. 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s