Amanda Chapter 5 “Ternyata lo”


I’m sorry for blaming you for everything I just couldn’t do
And I’ve hurt myself by hurting you
Some days I feel broke inside but I won’t admit
Sometimes I just want to hide ’cause it’s you I miss
You know it’s so hard to say goodbye when it comes to this
I’m sorry for blaming you for everything I just couldn’t do
And I’ve hurt myself By hurting you (christina aguilera-Hurt)

“Manda ini udah belum?”
“Manda, panggung udah kelar”
“Manda, stannya gini aja?”
Yayaya gue super sibuk banget, semuanya serba mengejar deadline, dan gue harus siap buat kesana kemari.
Sekarang gue haus, gimana dong? Ya makanlah ya. Ya udah kita ambil duit dulu di tas.
Eits… Ini apa ditas gue? Sebotol minuman? Plus surat putih, ah pasti dari pengirim yang biasa.

#isisurat dear amanda.
Diminum ya… Semangat

tapi tumben gak ada kata “from”nya. Ya sudahlah ya, siapapun dia pasti sayang banget sama gue.

“Lisa, surat perijinan mana? Yang kemarin itu loh” lisa itu temen gue, penanggung jawab perijinan.
“Loh kan ada di brian”
“Lah kenapa dikasih ke dia?”
“Katanya bakal dikasih ke lo”
“Ya udah deh, makasih.”
Ah sial, kenapa ada di brian, manusia itu emang gak ada habisnya bikin gue kesel.

“Andrew, mau nolongin gue gak?”
“Nolong apa?”
“Ambilin surat ijin ke brian, gue males ngambilnya”
“Oh oke, cantik”

#beberapa saat kemudian tiba-tiba ada yang nutup mata amanda.

“Ini siapa?”
“Tebak dong”
Suaranya kayak angelo
“Angelo ya?”
“Hahaha gampang banget ketauannya” melepas tangan dari mata amanda
“Gimana tadi minumnya, seger gak?” Tanya angelo
“Hah, itu dari lo?, serius?”
“Iyalah, princess”
“Lebay deh, makasih ya” gue ngerasa bahagia banget ternyata itu dia, angelo. Berarti selama ini dia.
Saat sedang berbicara dengan angelo, tiba-tiba andrew datang dan membawa kabar yang bikin gue emosi dengan sempurna.

“Amanda, kata brian harus lo yang ngambil!”
“Kenapa? Males ah”
“Katanya kalau bukan lo gak bakal diserahin”
“Ya udahlah, dia dimana?”
“Didepan kopsis, dibawah pohon, lagi ngobrak-ngabrik tas” gue pun ke brian dengan segala emosi yang ada.

“Heh brian, surat ijin mana?”
“Emang ada di gue?”
“Katanya di lo”
“Bentar *dia ngubek-ngubek tasnya* gak ada tuh *dengan muka senga*”
“Ah sialan lo, gue butuh itu, mana? *gue ambil tasnya, gue buang semua isinya ke tanah* mana? *tiba-tiba ada sesuatu yang jatoh, yang bikin gue kaget* ini apa? Semua ini apa? Foto gue? Maksudnya? Jangan-jangan lo yang selama ini ngirimin gue surat”
“Ah sial, gue gak maksud ketauannya kayak gini”
“Alah, gue tau lo mau ngejebak gue ya? Lo mau gue ke geeran, jahat lo”
“Apaan sih? Gak nyambung banget, sumpah gak kayak gitu”
Amanda emosi, dan memutuskan untuk pergi dari situ, meninggaalkan semua kerjaan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s