Amanda Chapter 4 “you are not alone”


Cause you are not alone
I’m always there with you
And we’ll get lost together
‘Til the light comes pouring through
‘Cause when you feel like you’re done
And the darkness has won
Babe, you’re not lost (michael buble-lost)

Setelah malam itu, kedekatan gue dengan jelo menjadi-jadi, gue benar-benar menyukai jelo, terkadang dia lucu, dan terkadang menyebalkan, setiap hari dia mengantarkan gue pulang, dan status ini tetap tidak jelas, tetapi kegiatan gue harus tetap berjalan.

Hari ini rapat budaya kota, akan dimulai lagi, hanya untuk membahas apa lagi yang masih kurang.

“Apakah ada laporan untuk bintang tamu kita? Apakah pihak sekolah setuju bila kita mengundang penari goyang karawang” tanyaku pada seluruh anggota rapat.

“Tidak ada masalah” kata sekretaris rapat

“Itu memang tidak ada masalah, tapi saya bermasalah dengan anda” ucap manusia tengil, brian

“Maksud anda?”

“Saya tidak menyukai cara kerja anda yang jarang datang”

Ok gue pernah gak dateng, karena jalan sama jelo, tapi kan cuma 2 kali. “Sering? Saya cuma 2 kali tidak datang dan itu karena ada urusan penting!”

“Apa ada yang lebih penting dari acara ini, bila iya, sebaiknya anda merubah posisi dari ketua”

“Saya rasa tidak ada yang harus saya teliti, besok kita kembali ke lapangan, untuk mencheck ulang sebelum 3 hari kedepan” gue menutup rapat dan segera keluar, menunggu brian keluar juga.

“Brian, tunggu saya mau bicara”
“Ada apa?”
“Lo ada masalah apa sih sama gue?”
“Lah emang kenapa? Gue cuma ngeritik lo doang, gue gak suka lo gak rajin, gak tau posisi banget”
“Gue muak sama tingkah lo di rapat, gak perlu setiap rapat nyuruh gue mundur, lo kesel karena gak kepilih jadi ketua? Lo marah karena lo selalu kalah dari gue disetiap lomba yang kita ikuti? Capek jadi urutan tepat dibawah gue terus? Hah? Lo gak akan bisa lebih baik dari gue selama sikap lo kayak gini”
“Bacot aja mulut lo”
Brian pergi dan ninggalin gue sendiri, dan emosi yang meluap tadi bikin kaki gue lemes dan akhirnya gue nangis sangkin keselnya.
Dan gue liat didepan gue ada andrew, yang dengan baiknya memberikan gue saputangan.

“Manusia kayak brian terlalu tidak berguna buat lo tangisin, sini-sini nangis dibahu gue” dan gue nangis sekenceng-kencengnya, andrew tetap menemani gue, sesaat setelah nangis gue mulai reda, andrew nanya sesuatu ke gue.
“Nda, lo pacaran sama jelo?”
“Hah? Kata siapa? Enggak”
“Ah gak usah boong, satu sekolah juga ngerasa kedeketan lo sama jelo itu beda”
“Ah enggak”
“Lo gak pernah jalan lagi sama gue, lo berubah, apa karena jelo?”
“Kok? Enggaklah, kan lo udah punya pacar, kenapa gak sama pacar lo aja jalannya?”
“Beda!”
“Terserah deh, gue capek, gue ke loker dulu, mau ambil barang dan pulang, deluan”

Pikiran gue tiba-tiba kacau, kenapa dia harus bilang kayak gitu, dasar masa lalu, datang dan hanya mengganggu.
Sesampainya gue diloker, gue mulai memberesi semua buku-buku disana, dan tanpa sengaja ada sebuah surat putih jatuh ke kaki ku dari loker, aku mengambilnya dan mulai membacanya

dear amanda, perempuan lucu dan gigih yang pernah gue temui dan selalu berhasil membuat gue pengen ketemu setiap hari, tetap semangat ya, jangan nangis!
From: under the trophy

Ah surat lagi, kesekian kalinya, tanpa nama asli, entah siapa yang ngirim, dan lagi-lagi disertai dengan satu foto gue, diambil dengan jarak dekat, dan gue gak pernah berhasil ngeliat si pemfoto, siapapun dia tentu benar-benar memperhatikan ku dan begitu peduli padaku.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s