Amanda chapter 2 “aku salah”


And then I see you on the street,
In his arms, I get weak,
My body fails, I’m on my knees,
Prayin’,
When he opens his arms and holds you close tonight,
It just won’t feel right,
‘Cause I can love you more than this. (More than this-one direction)

Baiklah rapat telah selesai,ada pertanyaan?”
“Mengapa anda yang jadi leader disini?”
“Karena saya ditunjuk dan sekolah kita dan yang lain setuju”
“Apakah anda yakin anda bisa memimpin ini?

“Apa maksud pertanyaan anda, kenapa tiba-tiba nyari ribut gini, saya yakin bisa, asal ada kerjasama, Brian”

“Ah saya tidak percaya dengan kepemimpinan wanita” ucap Brian dari sekolah Pertama Nusantara, laki-laki yang tidak pernah berhenti membuat gue jengkel dari setahun yang lalu, Tipikal cowok yang suka merusak suasana, dan beralih ke hal yang tidak penting.

“Maaf, jika anda tidak meyakini amanda, dan merasa lebih hebat, kenapa sekolah tidak menunjuk anda? Dan saya rasa rapat sudah cukup, saya harap kedepan tidak ada yang bertanya diluar Topik” Bela Sahabat lelakiku, Andrew. Sahabat yang selalu membelaku, sahabat yang suaranya hanya keluar untukku, sahabat yang saat ini bertindak sebagai wakilku.

Hari ini rapat untuk budaya kota telah selesai, semua berjalan sangat baik, awalnya. Dans sekarang semua sudah kembali pulang.

“amanda” teriak seorang lelaki, bertubuh kekar, putih, mancung, mata bersahabat, dan memakai kaca mata.

“Hei andrew, kenapa?”

“Enggak, lo baik-baik aja kan?”

“Ya, makasih ya, tanpa lo gue pasti udah nonjok si brian”

“Gue emang tercipta buat ngelindungin lo, malam ini kita jadi makan di Resto Kita kan?”

“Ya”

“Bagus, soalnya gue ada kejutan buat lo, sesuatu yang udah lama pengen gue kasih tau dari setahun lalu”

” Apaan?”

“Bukan surprise namanya kalau gue kasih tau, pake baju bagus yee, bidadari peterpan” andrew mencubit hidung gue, lalu mengacak rambut gue, dan pergi dengan santainya.

Ya Andrew satu-satunya cowok yang dari setahun lalu bikin gue jatuh cinta, bikin gue tau arti sacrifice, dia mood-booster gue, dia cowok yang perhatian cuma sama gue, cowok yang enak diajak kerjasama, cowok yang suka denger lagu simple plan dan secondhand serenade, cowok yang sangat Realistis, cowok yang tetep lari dibawah hujan, cowok yang nyuri hati gue, sayangnya dia gak tau kalau he has stole my heart!

(Malam hari di Resto Kita)

Gue duduk di out doornya (top roof) restoran ini, duduk manis mengenakan sweater abu-abu, jeans hitam, dengan rambut disanggul acak keatas. saat ini pikiran gue campur aduk, disatu sisi gue berfikir andrew bakal bilang kalau dia cinta sama gue, tapi disatu sisi gue berfikir dia bakal bilang hal lain yang gak berhubungan sama perasaan gue. Tapi, entah kenapa gue yakin semua ini tentang perasaan.

Udah setengah jam gue disini.
#sms “lo dmna ndrew?”

Reply “bentar lg nyampe”

“Ya kapan? Setengah jam ini”
“sabar dong bidadari kecilku, ini gue lagi naik tangga”
Sms terakhirnya, membuat gue semakin yakin, dia bakal nembak gue.

Dan 2menit kemudian, lelaki yang gue tunggu pun datang, mengenakan jaket parasut warna abu-abu dan kaos putih, rambutnya disisir begitu rapih, sepatu cats hitam, dan celana jeans abu-abu menambah ketampanannya malam ini.

“Hai… Amanda” Teriaknya dari depan pintu.

“Hai andrew… Sini” ajakku, tapi anehnya andrew kembali ke pintu tangga, lalu keluar dan menggandeng seorang wanita yang sangat cantik, mengenakan short dress biru tua dilapisi jaket tipis, dan celana panjang biru tua pula, tak lupa rambutnya dibiarkan tergurai indah.

Merekapun sampai dimejaku.
“Amanda, maaf ya lama”

“Oh okay, ini siapa?” Aku menunjuk wanita disebelahnya.
“Kan gue bilang ke lo, ada hal yang pengen gue kasih tau, nah gue rasa udah saatnya lo tau sedikit tentang hidup gue, dan dia juga pengen banget kenal sama lo”
Aku menyimak dengan baik.

“Kenalin ini arilita, pacar gue, arilita kenalin ini amanda”

“Amanda” kenalku

“Arilita” jawabnya.

“Amanda, Andrew sering cerita tentang kamu loh, tentang lucunya kamu, tegasnya kamu, dan semua persahabatan kalian selama setahun ini, aku jadi penasaran deh”

“Dia gak cerita apa-apa tentang lo, sorry” dan kami menghabiskan malam itu dengan perbincangan, perbincangan yang tak ku hiraukan, aku hanya dapat memandang mereka, dan mendapati bahwa selama ini aku keliru, aku keliru akan sikap dia padaku, semua hanya sebatas persahabatan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s